Abdul Halim Sebut Napak Tilas Muassis NU sebagai Jejak Sejarah Peradaban Dunia

BANGKALAN, TIMESindo.com – Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama (NU) menggelar napak tilas tongkat dan tasbih isyarah pendirian NU dari Bangkalan menuju Jombang, Minggu (4/1/2026), sebagai ikhtiar meneguhkan kembali sejarah lahirnya NU.

Kegiatan diawali dari Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Demangan, Bangkalan. Lokasi ini dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan spiritual dan keilmuan para muassis NU.

Dari pesantren tersebut, peserta berjalan kaki menuju Pelabuhan Kamal. Rute darat ini merepresentasikan perjalanan dakwah para ulama Madura di masa awal penyebaran Islam Nusantara.

Setibanya di Pelabuhan Kamal, rombongan melanjutkan perjalanan dengan menyeberang laut menuju Pelabuhan Perak, Surabaya. Penyeberangan ini dimaknai sebagai simbol kesinambungan perjuangan lintas wilayah.

BACA JUGA: Rekam Jejak Gemilang 2025, UTM Kian Diakui di Tingkat Nasional dan Global

Dari Surabaya, peserta singgah di Makam Sunan Ampel untuk berdoa bersama. Ziarah ini menjadi pengingat kuatnya sanad keilmuan dan spiritualitas dalam tubuh NU.

Rombongan kemudian bergerak ke Kantor PC NU Surabaya yang disebut sebagai representasi awal berdirinya kantor Pengurus Besar NU. Titik ini menjadi penguat narasi sejarah organisasi.

Agenda napak tilas berlanjut menuju Stasiun Gubeng. Dari sana, peserta menaiki kereta api menuju Jombang sebagai lokasi puncak kegiatan.

Sesampainya di Jombang, tongkat dan tasbih isyarah pendirian NU diserahkan kepada Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Prosesi ini melambangkan estafet nilai perjuangan para pendiri NU.

Sekitar seribu jamaah tercatat mengikuti kegiatan ini sejak titik awal di Bangkalan. Antusiasme peserta tetap terjaga meski perjalanan menempuh lintas kota dan laut.

BACA JUGA: Proyek KDMP Rp1,6 M Tanpa RAB, PMII Bangkalan Menduga Agrinas dan TNI Kongkalikong

Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, H. Abdul Halim, menilai napak tilas ini sebagai upaya merawat memori sejarah NU. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk memperkuat kesadaran generasi muda.

“Napak tilas ini meneguhkan kembali isyarah pendirian Nahdlatul Ulama sebagai perekat umat dan bangsa,” kata pria yang saat ini juga jabat Ketua PD Satria Jawa Timur.

Pria yang merupakan Alumni dan Dewan Penasihat IKSASS Surabaya menyebut kegiatan ini terbuka untuk umum namun dibatasi. Pembatasan dilakukan demi menjaga kelancaran perjalanan dan efektivitas agenda.

“Peserta yang ikut tapak tilas ini dari lintas kabupaten, karena ini terbuka untuk umum. Tapi kami batasi seribu, karena ini kegiatan pertama kali,” pungkasnya. ***

Berita Terkait :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Postigan Populer