Tak Segera Temui Massa, Sikap Bupati Lukman Disebut Picu Ricuh Demo HMI

BANGKALAN, TIMESindo.com – Aksi unjuk rasa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bangkalan di depan Kantor Pemkab setempat, Senin (19/1/2026), berujung ricuh. Ketegangan itu dinilai sebagai buah dari kegagalan Bupati Lukman Hakim merespons aspirasi secara cepat dan terbuka.

Sejak awal, massa aksi hanya meminta satu hal: dialog langsung dengan bupati. Namun hingga hampir satu jam berlalu, orang nomor satu di Bangkalan itu tak kunjung muncul, memicu emosi demonstran yang merasa diabaikan.

BACA JUGA: Setelah Fraksi Demokrat, Giliran Fraksi PAN Nilai Bupati Bangkalan Lalai Benahi Birokrasi

Ketertutupan tersebut dianggap mencerminkan gaya kepemimpinan yang enggan menghadapi kritik. Alih-alih meredam situasi, sikap diam bupati justru memperlebar jarak antara pemerintah daerah dan mahasiswa.

“Kami datang baik-baik, tapi tidak dihargai. Kalau bupati terus bersembunyi, ini sama saja menantang emosi massa,” tegas Koordinator Aksi HMI, Isro’ Mi’roj, dari atas mobil komando.

HMI menyebut aksi itu sebagai upaya menagih tanggung jawab kepala daerah atas berbagai persoalan publik. Mulai dari buruknya pelayanan publik, krisis sampah, pendidikan, hingga galian C yang tak terkendali.

“Semua ini janji politik bupati sendiri. Kami hanya mengingatkan agar tidak lari dari tanggung jawab,” ujar Isro’.

Menurut HMI, alasan keterlambatan bupati menemui massa sulit diterima. Sebab, pemberitahuan aksi telah disampaikan beberapa hari sebelumnya, sehingga seharusnya agenda dialog bisa diprioritaskan.

“Kami sudah kirim surat resmi. Kalau tetap tidak ditemui, artinya memang tidak ada niat berdialog,” katanya.

Situasi memanas ketika massa mencoba mendekati pintu kantor bupati. Aparat keamanan merespons dengan penyemprotan water cannon, menandai kegagalan komunikasi sejak awal antara pemimpin daerah dan warganya.

BACA JUGA: Dana Desa Menurun, PKDI Bangkalan Desak Dukungan Lintas Sektor

Bupati Lukman Hakim baru keluar setelah kondisi terlanjur ricuh. Keterlambatan tersebut justru memperkuat penilaian bahwa konflik itu muncul akibat kelalaian pemimpin dalam membaca situasi lapangan.

“Kami taat aturan, tapi diperlakukan seolah tidak penting. Kritik di media sosial cepat ditanggapi, tapi datang langsung justru dihindari,” sindir Isro’ sebelum membubarkan massa.

Sementara itu, Lukman Hakim menyampaikan permohonan maaf dan membantah sengaja membiarkan massa menunggu. Ia berdalih tengah menerima tamu lain sebelum akhirnya menemui mahasiswa.

“Saya sudah menunggu massa aksi. Karena belum datang maka saya menerima dua tamu. Secara etika, tidak pantas saya tinggalkan. Tamu masih ada, jadi saya izin sebentar untuk menemui teman-teman mahasiswa,” kata dia.

Namun dalih tersebut tak meredam kritik. Bagi HMI, insiden ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang lamban dan tertutup berpotensi memicu konflik terbuka di ruang publik. ***

Berita Terkait :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Postigan Populer