Jejak yang Tertinggal di Lorong Kejari Bangkalan: Kisah Hendrik Sosok Tegas dan Ceria

BANGKALAN, TIMESindo.com Ada perpisahan yang terasa sunyi meski tanpa seremoni. Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangkalan kini kehilangan satu sosok yang selama ini dikenal tegas, hangat, dan mudah ditemui.

Ia adalah Hendrik Murbawan. Kasi Pidum yang akrab disapa Bang Hendrik itu resmi berpindah tugas ke Brebes, Jawa Tengah, sebagai Kasi Intel Kejaksaan Negeri setempat.

Posturnya yang tinggi, berkacamata, dan selalu tampak sigap tak lagi terlihat di lorong kejaksaan Bangkalan. Ruang kerja yang dulu ramai diskusi kini terasa berbeda.

BACA JUGA: Petugas UGD RSIA Puri Bunda Bersikap Arogan ke Bidan, Manajemen Tanggapi Santai

Di antara para kepala seksi, Bang Hendrik dikenal paling “terbuka”. Ia mudah dihubungi, ringan menyapa, dan tak pernah berjarak dengan jurnalis.

Bagi Hendrik, satu tahun sembilan bulan bukan sekadar hitungan waktu. Bangkalan telah menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh.

“Awalnya saya hanya berpikir soal pekerjaan. Tapi lama-lama, lingkungan ini terasa seperti keluarga,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Ia mengakui, beradaptasi di Madura bukan perkara mudah. Kearifan lokal, karakter masyarakat, hingga dinamika sosial menjadi tantangan tersendiri.

Namun, Hendrik memilih belajar dengan cara paling sederhana: memperbanyak pertemanan dan membuka diri.

“Saya terus belajar. Dari teman, saudara, sampai orang-orang yang saya temui di jalan,” katanya.

BACA JUGA: Tak Lagi Sekadar Hiburan, Helmi Fuad Menata Masa Depan Domino Melalui Orado Bangkalan

Selama bertugas, sejumlah perkara besar ia tangani. Mulai kasus perkelahian Hasan–Wardi di Tanjung Bumi, pencabulan santri oleh kyainya di Socah, hingga pembunuhan tragis mahasiswi UTM di Galis.

Kasus-kasus itu meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya soal hukum, tetapi juga tentang wajah Madura yang berlapis-lapis.

“Dari Bangkalan saya belajar bahwa setiap daerah punya kompleksitas yang tidak bisa disederhanakan,” ungkapnya.

Keputusan meninggalkan Bangkalan, diakuinya, bukan hal ringan. Banyak kenangan, cerita, dan ikatan emosional yang tertinggal.

Namun, tugas negara tak memberi ruang untuk ragu. Penugasan baru adalah amanah yang harus dijalani.

“Di mana pun ditempatkan, kita harus memberi yang terbaik,” tegas Hendrik.

BACA JUGA: Musrenbang Kecamatan Bangkalan: Puluhan Usulan Disaring, Infrastruktur Jadi Prioritas 2027

Di akhir masa tugasnya, Bang Hendrik menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membersamai langkahnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf jika selama bertugas ada sikap atau keputusan yang kurang berkenan.

“Semoga komunikasi dan kekeluargaan ini tetap terjaga. Mudah-mudahan kita dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik,” tutupnya. ***

Berita Terkait :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Postigan Populer