SURABAYA, TIMESindo.com – Di tengah rutinitas mengajar di salah satu kampus swasta di Surabaya, Syamsul Arifin, dosen muda asal Madura, tak berhenti berinovasi. Dari tangannya lahir camilan khas yang kini digemari banyak orang: Kripik Tette “K-Syams”
Berawal dari keinginan memperkenalkan cita rasa lokal, Syamsul mengolah singkong menjadi camilan renyah dengan sentuhan rasa khas Nusantara. Siapa sangka, usaha rumahan yang dirintis sejak 2020 itu kini berkembang pesat dan menembus pasar nasional.
Baca juga: Cerita Owner Kopi Kelud Sukses Merintis Usahanya Melalui Modal KUR BRI
Dengan kemasan modern dan branding profesional, K-Syams berhasil menarik minat konsumen muda. Tak hanya di dalam negeri, produk ini kini dipersiapkan untuk ekspor ke sejumlah negara tetangga.
“Dari Madura untuk dunia,” begitu semboyan yang dipegang Syamsul asal Kabupaten Sampang itu. Ia percaya produk lokal bisa bersaing jika dikelola dengan serius dan memenuhi standar mutu.
Kripik Tette “K-Syams” telah mengantongi sertifikat halal serta izin edar resmi dari Dinas Kesehatan. Legalitas itu menjadi bukti keseriusannya menjaga kualitas dan keamanan pangan.
Pengakuan atas kerja kerasnya datang dari berbagai pihak. Pada perayaan HUT Provinsi Jawa Timur ke-80, K-Syams dipercaya menjadi produk hidangan dan goodie bag resmi untuk tamu undangan dari seluruh daerah.
“Kami bangga bisa berpartisipasi di acara sebesar itu. Ini bukti produk lokal mampu tampil di panggung resmi pemerintah,” ujar Syamsul dengan senyum bangga, Minggu 26 Oktober 2025.
Baca juga: Anang-Ashanti Sapa Ribuan Mahasiswa UTM: Tak Hanya Nyanyi, Tapi Ngasih Ilmu
Langkah Syamsul semakin mantap ketika ia terpilih mengikuti program “Peningkatan Kapasitas SDM UKM Siap Ekspor Tahap II,” yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pada 22–24 Oktober 2025.
Dalam ajang itu, dua varian andalan K-Syams, yaitu rasa balado dan rasa daun jeruk yang sukses menarik perhatian para pelaku ekspor. Banyak yang memuji keunikan rasa dan kualitas kemasannya.
“Saya ingin membawa cita rasa Madura ke pasar global. Ini bukan sekadar bisnis, tapi wujud cinta saya pada daerah asal,” tutur Syamsul, yang kini memasuki usia 33 tahun.
Bagi Syamsul, kunci sukses UMKM ada pada inovasi dan keberanian. Ia berharap semakin banyak anak muda berani mencoba, berinovasi, dan menjadikan produk lokal sebagai kebanggaan bersama.
“Kalau dikemas profesional dan memenuhi standar legalitas, produk lokal tak kalah dari luar negeri,” tambahnya yakin.
Kini, Kripik Tette “K-Syams” bukan sekadar camilan. Ia menjadi simbol semangat wirausaha muda Madura yang membuktikan bahwa kerja keras dan cinta daerah bisa membawa cita rasa lokal mendunia. ***

