BANGKALAN, TIMESindo.com – Penanaman hexa reef di perairan Pantai Tlangoh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menjadi upaya nyata menjaga pesisir sekaligus menumbuhkan harapan baru bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
Program ini merupakan bagian dari Pengembangan Wisata Pesisir Terintegrasi Pantai Pasir Putih Tlangoh yang dijalankan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO). Inisiatif tersebut memadukan konservasi lingkungan dan penguatan ekonomi warga.
BACA JUGA: Berbenah dan Bertumbuh, PUDAM Bangkalan Tunjukkan Tren Positif
Langkah ini berawal dari riset PHE WMO bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 2022. Kajian tersebut menemukan ancaman abrasi serius akibat arus ombak dan aktivitas penambangan pasir ilegal.
“Berdasarkan hasil studi, laju abrasi di kawasan pantai Tlangoh mencapai sekitar tujuh meter per tahun,” kata Sr Manager Regional Indonesia Timur PHE WMO, Sigit Dwi Aryono, Sabtu 27 Desember 2025.
Selain abrasi, pesisir Desa Tlangoh juga menghadapi persoalan sampah. Timbunan sampah di kawasan tersebut mencapai sekitar 1.488 meter kubik per hari dan berdampak pada menurunnya potensi wisata.
Kondisi itu mendorong PHE WMO menerapkan konsep One Belt One Road (OBOR) sebagai strategi terpadu pembangunan wilayah pesisir utara Bangkalan.
“Konsep OBOR menitikberatkan empat dimensi utama, yakni lingkungan, pendidikan, ekonomi, dan sosial,” jelas Sigit.
Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah hexa reef, struktur buatan berbentuk segi enam yang ditanam di dasar laut sebagai pengendali abrasi.
Berbeda dengan pemecah ombak konvensional, hexa reef bekerja menahan arus bawah laut dan menjaga pasir agar tidak terbawa gelombang.
Hexa reef pertama kali ditanam di Pantai Pasir Putih Tlangoh pada 2023. Hingga kini, sekitar 390 ton hexa reef telah terpasang di perairan tersebut.
Hasil studi tahun 2025 menunjukkan perubahan signifikan. Sedimentasi mulai terbentuk dan garis pantai mengalami pelebaran secara bertahap.
“Dalam rentang data 2016 hingga 2025, segmen 280–300 menunjukkan tren akresi sekitar lima meter,” ujar Sigit.
Selain menahan abrasi, hexa reef juga berkembang menjadi habitat baru bagi biota laut. Berbagai spesies ikan karang mulai bermunculan di sekitar struktur tersebut.
“Ini memudahkan nelayan mendapatkan ikan tanpa harus melaut terlalu jauh,” katanya.
BACA JUGA: Lukman Hakim Terpilih Ketua, Nur Hakim Jadi Sekretaris: PDI Perjuangan Bangkalan Siap Solid
Keberhasilan program ini turut didukung Kepala Desa Tlangoh, Kudrotul Hidayat. Ia membangun kesadaran warga dan membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tlangoh.
“Hexa reef menciptakan rantai nilai baru melalui kerja sama antara pokdarwis, nelayan, dan UMKM,” ujar Kudrot.
BACA JUGA: Niat Tertibkan Pedagang, Penyewaan Stand di SMPN 2 Kamal Disorot Dugaan Korupsi
Perubahan sosial pun terjadi. Sekitar 40 UMKM tumbuh di kawasan wisata, bahkan sejumlah mantan pekerja migran memilih kembali dan membuka usaha di kampung halaman.
“Tanpa dukungan masyarakat, program ini tidak akan berhasil. Mereka adalah pahlawan tanpa jubah dari Tlangoh,” kata General Manager Zona 11 PHE WMO, Zulfikar Akbar. ***

