BANGKALAN, TIMESindo.com – Tokoh-tokoh Madura menegaskan komitmen menjaga marwah dan citra Madura dari tindakan oknum yang mengatasnamakan organisasi kesukuan. Sikap itu disampaikan dalam Musyawarah Tokoh Madura di Bangkalan, Minggu (11/1/2026).
Ketua DPRD Bangkalan, Dedy Yusuf, menilai persoalan yang menyeret nama Madura tidak bisa dianggap sepele. Konflik yang membawa identitas Madura, menurutnya, berpotensi berdampak panjang bagi generasi muda dan masyarakat Madura di perantauan.
BACA JUGA: Perseba Pesta 8 Gol Tanpa Balas Atas Putra Jaya FC, Askab PSSI Bangkalan Optimistis Tatap 16 Besar
Ia menegaskan karakter orang Madura dikenal menjunjung etika, adab, dan kesantunan. Nilai tersebut harus terus dijaga agar tidak dirusak oleh perilaku segelintir pihak yang memunculkan stigma negatif.
“Ketegasan harus dibarengi tanggung jawab, agar nama besar Madura tidak tercoreng,” tegas Dedy.
Dedy juga menekankan organisasi yang membawa nama Madura wajib mengawasi anggotanya. Ketegasan internal dinilai penting agar konflik tidak melebar dan merusak citra suku.
“Siapa pun yang memicu konflik harus ditindak agar tidak melampaui batas,” ujarnya.
BACA JUGA: Di Hadapan Juru Parkir, Wabup Fauzan Tegaskan Larangan Pungutan di Zona Berlangganan
Inisiator musyawarah, Soleh Abdi Jaya, menyebut citra Madura di sejumlah daerah perantauan kini memprihatinkan. Berbagai label negatif yang muncul dinilainya sebagai alarm serius bagi semua pihak.
Menurut Soleh, perantau Madura memikul tanggung jawab besar menjaga nama baik daerah asal. Nilai etika warisan leluhur harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menilai stigma negatif berdampak pada psikologis generasi muda Madura yang merasa terpinggirkan. Kondisi tersebut, kata dia, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
“Kami mengajak semua unsur, dari tokoh agama hingga pemuda, duduk bersama membangun persaudaraan,” kata Soleh.
BACA JUGA: Proyek KDMP Rp1,6 M Tanpa RAB, PMII Bangkalan Menduga Agrinas dan TNI Kongkalikong
Anggota DPR RI Dapil Madura, H. Syafiuddin Asmoro, mengapresiasi upaya konsisten Soleh dalam mendorong perdamaian. Menurutnya, orang Madura sejatinya menjunjung persatuan dan kebersamaan.
Ia mengingatkan seluruh ormas Madura kembali pada visi, misi, dan AD/ART yang menjunjung etika serta nilai luhur para pendahulu.
Syafiuddin juga menyoroti peran strategis media dalam menjaga citra Madura. Ia berharap pemberitaan disajikan berimbang dan tidak memperkuat stigma negatif.
“Media memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik,” ujarnya.
BACA JUGA: Rekam Jejak Gemilang 2025, UTM Kian Diakui di Tingkat Nasional dan Global
Sementara itu, Mathur Husairi mengaku pernah enggan mengakui identitasnya sebagai orang Madura. Hal itu dipicu citra buruk yang melekat, terutama di lingkungan pendidikan.
Ia menyebut konflik Sambas dan Sampit masih membekas bagi keturunan Madura di Kalimantan. Namun, peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran untuk lebih mawas diri.
“Perubahan citra dimulai dari sikap kita kepada orang lain,” kata Mathur.
Ketua Madas Sedarah, Taufik, menilai pertemuan ini sebagai momentum evaluasi organisasi. Ia mengakui kualitas SDM internal masih perlu pembenahan serius.
“Evaluasi total harus dilakukan agar kejadian yang mencoreng nama Madura tidak terulang,” pungkasnya. ***

