Kongres Budaya Madura 2025 di UTM, Menteri Kebudayaan Dorong Glokalisasi dan Peran Museum

Publish :

BANGKALAN, TIMESindo.com Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan gelar Kongres Budaya Madura 2025, Senin 22 Desember 2025. Kegiatan ini mempertemukan pemangku kebijakan, akademisi, dan budayawan.

Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon, hadir memberikan orasi ilmiah dalam agenda bertema glokalisasi dan peresmian Museum Budaya Madura. Ia menekankan pentingnya kebudayaan dalam kerangka pembangunan nasional.

“Kebudayaan adalah amanat konstitusi yang harus dijaga dan dikembangkan,” kata Fadli Zon.

BACA JUGA: Berbenah dan Bertumbuh, PUDAM Bangkalan Tunjukkan Tren Positif

Fadli Zon menjelaskan bahwa Pasal 32 UUD 1945 secara tegas menempatkan kebudayaan sebagai tanggung jawab negara. Menurutnya, budaya tidak boleh dipandang sebagai simbol semata.

“Budaya adalah kekuatan strategis bangsa, baik secara ekonomi maupun diplomasi,” ujarnya.

Konsep glokalisasi menjadi sorotan utama dalam orasi tersebut sebagai jalan tengah antara lokalitas dan globalisasi. Budaya Madura, kata dia, harus tetap berakar namun mampu menembus batas dunia.

“Glokalisasi menjembatani kearifan lokal dengan daya saing global,” tegasnya.

Dalam konteks pelestarian budaya, museum dinilai memiliki peran vital sebagai ruang pembelajaran lintas generasi. Museum tidak hanya menyimpan artefak, tetapi juga gagasan dan nilai.

“Museum adalah penghubung masa lalu, masa kini, dan masa depan,” kata Fadli Zon.

BACA JUGA: Lukman Hakim Terpilih Ketua, Nur Hakim Jadi Sekretaris: PDI Perjuangan Bangkalan Siap Solid

Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, memaknai glokalisasi sebagai sikap aktif masyarakat Madura dalam percaturan global. Ia menegaskan bahwa identitas lokal harus tetap menjadi fondasi utama.

Lukman Hakim juga menyoroti fungsi museum sebagai sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Nilai budaya, menurutnya, perlu diwariskan secara kontekstual.

“Madura harus hadir sebagai subjek, bukan sekadar penonton globalisasi. Museum bukan gudang benda mati, tetapi ruang pembelajaran nilai,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi kunci pembangunan peradaban. Sinergi ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan budaya.

“Kami membutuhkan kampus sebagai mitra strategis pembangunan kebudayaan,” ujar Lukman.

BACA JUGA: Niat Tertibkan Pedagang, Penyewaan Stand di SMPN 2 Kamal Disorot Dugaan Korupsi

Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, menyebut Kongres Budaya Madura 2025 memiliki makna simbolik karena bertepatan dengan Hari Ibu. Momentum ini dianggap relevan dengan peran perempuan dalam budaya.

“Perempuan adalah penjaga utama nilai dan tradisi dalam masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa UTM memiliki tanggung jawab merawat kebhinekaan melalui pendidikan berbasis kearifan lokal. Mahasiswa dari berbagai latar budaya menjadi kekuatan utama kampus.

Peresmian Museum Budaya Madura, kata Prof Safi’, merupakan ikhtiar akademik agar mahasiswa tidak tercerabut dari akar budayanya. Museum diharapkan menjadi ruang refleksi dan inovasi.

“Kampus harus menjadi rumah bagi keberagaman dan identitas. Kami ingin mahasiswa kuat secara akademik dan kultural,” ucapnya.

UTM juga berkomitmen mengembangkan Program Studi Bahasa Madura sebagai langkah konkret pelestarian bahasa daerah. Kebijakan ini dinilai penting untuk kesinambungan pendidikan budaya.

“Bahasa Madura harus dijaga secara sistematis dan berkelanjutan,” tegas Safi’.

Melalui kongres ini, UTM menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan ilmu yang berpijak pada budaya lokal. Budaya Madura diharapkan semakin diperhitungkan secara nasional dan global.

“Kami ingin budaya Madura berdampak dan diakui dunia,” pungkasnya. ***

Berita Terkait :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Postigan Populer