BANGKALAN, TIMESindo.com – Bagi Daffa Wijaya Rifandi, sepak bola bukan sekadar hobi masa kecil. Di usia remaja, ia telah menempatkan diri di bawah mistar gawang level elite nasional, menjaga asa sebagai kiper masa depan Madura.
Lahir di Surabaya, 27 November 2008, Daffa tumbuh dan ditempa di Bangkalan melalui SSB Mitra Bangkalan. Dari lapangan sederhana itulah naluri menjaga gawang perlahan terbentuk dan menguat.
BACA JUGA: Cekcok di Pos Berujung Penusukan, Warga Pamekasan Luka di Bangkalan
Perjalanannya di kompetisi usia muda diwarnai kerja keras dan kesabaran. Ia mencatat prestasi bersama Persepam Pamekasan di Piala Soeratin, hingga meraih gelar kiper terbaik di sejumlah turnamen regional Jawa Timur.
Musim 2025–2026 menjadi titik penting. Daffa menembus skuad EPA Madura United U-18 dan tampil dalam 11 pertandingan, sebuah pencapaian langka bagi pemain seusianya.
Di balik pencapaian itu, ada pengorbanan yang tak ringan. Sebagai siswa SMAN 1 Bangkalan, Daffa harus jauh dari keluarga, tinggal di mes, dan menjalani disiplin latihan ketat setiap hari.
BACA JUGA: Warga Kepung Kemenag Bangkalan, Tuntut Izin Ponpes Nurul Karomah Dicabut
Ketua Askab PSSI Bangkalan, Hermansyah, menilai keberhasilan Daffa sebagai bukti nyata hasil pembinaan jangka panjang di daerah.
“Kami sangat bangga dengan capaian Daffa. Ini menunjukkan bahwa anak-anak Bangkalan memiliki potensi besar dan mampu bersaing di level nasional jika dibina dengan serius dan berkelanjutan,” ujar Hermansyah.
Ia menegaskan, keberhasilan tersebut bukan hasil proses instan, melainkan buah dari konsistensi, disiplin, dan mental kuat yang dibangun sejak usia dini.
“Daffa ini contoh bahwa prestasi lahir dari proses. Harapan kami, dia tidak cepat puas, terus rendah hati, dan menjaga komitmen agar bisa melangkah ke level profesional,” katanya.
Hermansyah juga berpesan agar Daffa kelak tetap memberi kontribusi bagi daerah asalnya.
“Ketika nanti sudah lebih tinggi kariernya, kami berharap Daffa mau kembali, berbagi pengalaman, dan memotivasi adik-adik di Bangkalan supaya berani bermimpi dan bekerja keras,” tuturnya.
Bagi Askab PSSI Bangkalan, kisah Daffa bukan sekadar cerita individu. Ia menjadi penanda bahwa dari lapangan kampung, Bangkalan mampu melahirkan penjaga mimpi untuk sepak bola masa depan. ***

