OPINI
Oleh: Rahman
TIMESindo.com – Tujuh puluh dua tahun perjalanan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) bukanlah sekadar angka yang menandai umur yang panjang. Ini adalah jejak sejarah panjang perjuangan ideologi, pergulatan pemikiran, dan kontribusi nyata dalam dinamika bangsa. Mewarisi semangat Marhaenisme dari Bung Karno, GMNI secara konsisten memposisikan diri sebagai penjaga benteng nasionalisme dan penyambung lidah rakyat kecil yang tertindas (Marhaen).
Namun, di tengah badai perayaan hari jadi yang ke-72 ini, selayaknya tidak sekadar menjadi seremonial ajang atau pemujaan masa lalu yang romantis. Tantangan eksistensial bagi GMNI hari ini adalah: Bagaimana doktrin nasionalisme yang luhur itu dapat terus hidup dan relevan di tengah arus zaman yang kian tak menentu?
Tantangan di Usia “Emas” GMNI
Dunia sedang berubah secara fundamental. Revolusi Industri 4.0, kecerdasan buatan (AI), dan era pasca-kebenaran (post-truth) telah mengubah lanskap sosial-politik dan pola pikir masyarakat. Generasi muda (Gen Z dan Gen A) memiliki preferensi dan cara pandang yang berbeda, lebih pragmatis dan terkoneksi secara digital. Dalam konteks ini, GMNI menghadapi tantangan untuk tidak menjadi organisasi yang “kuno” dan “tertinggal”.
Ideologi Marhaenisme yang dirumuskan di abad ke-20 harus mampu diterjemahkan dan dikontekstualisasikan untuk menjawab persoalan di abad ke-21. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan orasi politik yang retoris, tetapi harus berubah menjadi gerakan intelektual dan digital yang berbasis data dan analisis yang tajam. GMNI harus naik kelas dari “Gerakan Moral” menjadi “Gerakan Intelektual dan Digital”.
DPC GMNI Bangkalan: Membumikan Marhaenisme di Gerbang Madura
Tantangan global ini tentu berimbas ke tingkat daerah. Bagi DPC GMNI Bangkalan, momen 72 tahun GMNI harus menjadi momentum untuk “re-ideologisasi” dan “re-organisasi” yang lebih membumi. Bangkalan, sebagai gerbang Pulau Madura, memiliki ciri-ciri sosial-budaya dan persoalan lokal yang spesifik. Diperlukan pendekatan yang berbeda untuk membumikan Marhaenisme di Tanah Madura yang kental dengan budaya Islam dan tradisi lokal.
Apa yang memerlukan GMNI di Masa Depan?
Kapasitas Intelektual dan Teknis: Kader GMNI di masa depan haruslah mahasiswa yang unggul secara akademis dan memiliki keahlian praktis dalam berbagai bidang. Kritis tidak berarti hanya bisa berteriak, tetapi harus mampu menawarkan solusi alternatif berbasis data dan kajian ilmiah terhadap permasalahan daerah, seperti kemiskinan, persepsi pendidikan, dan korupsi. GMNI Bangkalan memerlukan “pakar-pakar muda marhaen” yang menguasai persoalan lokal.
Dampak Nyata dan Terukur: GMNI harus berubah dari sekadar gerakan menjadi gerakan wacana yang fokus pada dampak (gerakan berorientasi dampak). Setiap kegiatan dan advokasi harus memiliki target yang jelas, terukur, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Marhaen di Bangkalan. Keberhasilan tidak diukur dari seberapa banyak aksi demo yang dilakukan, melainkan seberapa besar perubahan positif yang berhasil diwujudkan bagi rakyat kecil.
Kemampuan Beradaptasi dan Berjejaring: Lanskap permasalahan di daerah semakin kompleks dan terkoneksi secara global. GMNI memerlukan kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap perubahan zaman dan kemampuan berjejaring yang luas. Kita harus mampu menjalin strategi kemitraan dengan berbagai pihak (akademisi, organisasi masyarakat, pelaku usaha, pemerintah daerah) untuk memperkuat dampak gerakan dan memperluas jangkauan advokasi. GMNI Bangkalan harus menjadi “perekat” bagi berbagai elemen gerakan sosial di daerah.
Bagaimana Harus Melakukannya? (Fokus Bangkalan)
Kaderisasi Berbasis Isu Strategis dan Keahlian Praktis: DPC GMNI Bangkalan perlu meredesain program kaderisasi dengan fokus pada pengembangan keahlian dan isu strategis di Bangkalan. Selain ideologi pendidikan Marhaenisme yang mendalam, kader harus mendapatkan pelatihan khusus dalam bidang-bidang seperti hukum untuk advokasi hukum gratis, ekonomi kerakyatan, kesehatan masyarakat, dan pendidikan. Kaderisasi harus mampu melahirkan kader-kader yang siap terjun langsung ke tengah masyarakat dan memberikan kontribusi nyata.
Inisiasi Proyek Percontohan (Pilot Projects) Berdampak Langsung: Daripada hanya melakukan aksi demo yang kadang berakhir tanpa hasil, DPC GMNI Bangkalan sebaiknya menginisiasi proyek percontohan kecil yang berdampak langsung bagi masyarakat. Contohnya, program “GMNI Mengajar” di desa terpencil, “GMNI Membina UMKM Marhaen”, atau “GMNI Mengawal Anggaran Desa”. Proyek-proyek ini akan memberikan contoh nyata keberpihakan ideologi dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap organisasi. GMNI Bangkalan harus menjadi “garda terdepan” dalam memperjuangkan hak-hak rakyat kecil di Tanah Madura.
Pengawalan Kebijakan Publik Secara Analitis dan Solutif: DPC GMNI Bangkalan harus memiliki tim analisis khusus untuk melakukan pendalaman terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bangkalan dan kebijakan publik lainnya. Analisis temuan harus dilaporkan secara transparan kepada publik dan disertai dengan usulan solusi alternatif yang pro-rakyat. Kebijakan pengawalan harus dilakukan secara analitis, bukan hanya politis.
Pemanfaatan Teknologi untuk Advokasi dan Mobilisasi Digital: GMNI Bangkalan wajib memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan advokasi dan memobilisasi dukungan. Media sosial bukan hanya untuk seremonial, tapi untuk menyebarkan informasi, menggalang donasi, memobilisasi sukarelawan untuk proyek sosial, dan melaporkan dampak nyata kegiatan secara transparan. Digitalisasi harus menjadi alat untuk memperkuat dampak gerakan dan memperluas jangkauan perjuangan. GMNI Bangkalan harus menjadi “obor penggerak” di ranah digital di Pulau Madura.
Strategi Kemitraan Berorientasi Hasil: DPC GMNI Bangkalan harus berani menjalin kemitraan strategi dengan berbagai pihak yang memiliki visi dan misi yang sejalan, seperti LBH untuk advokasi hukum gratis, perguruan tinggi untuk penelitian sosial-ekonomi, dan pelaku usaha pro-rakyat. Kemitraan ini didasarkan pada komitmen bersama untuk mewujudkan hasil nyata, bukan hanya kolaborasi wacana. GMNI Bangkalan harus menjadi “jembatan” bagi berbagai elemen gerakan sosial di daerah.
72 tahun GMNI adalah warisan yang harus dijaga. Namun, menjaga warisan tidak berarti berhenti di masa lalu. Bagi DPC GMNI Bangkalan, masa depan adalah tentang bagaimana ideologi menjadikan Marhaenisme terus “hidup” dan “bernyawa” di tengah arus perubahan zaman yang serba digital.
GMNI Bangkalan harus berani bertransformasi, dari sekedar penonton menjadi aktor utama dalam pembangunan daerah. Kibarkan panji-panji GMNI dengan semangat nasionalisme yang progresif, intelektualitas yang tajam, dan keberpihakan yang tak tergoyahkan kepada kaum Marhaen. Di usia ke-72 ini, biarlah semangat Bung Karno terus membakar dada, membawa GMNI Bangkalan melangkah lebih gagah, lebih relevan, dan lebih membumi demi kemajuan Bangkalan, Madura, dan Indonesia.
Rahman
(Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan aktif sebagai kader GMNI Bangkalan)

