BANGKALAN, TIMESindo.com – LPI Miftahul Ulum, Desa Mano’an, Kecamatan Kokop, Bangkalan menandai wisuda ke-17 dengan cara berbeda, melainkan ujian terbuka di hadapan wali santri dan masyarakat, Selasa (10/02/2026).
Momentum ini bukan sekadar seremoni. Sebanyak sembilan santri TK TPA—tiga putra dan enam putri—diwisuda melalui mekanisme ujian terbuka yang disaksikan langsung wali santri dan tamu undangan.
BACA JUGA: Jejak yang Tertinggal di Lorong Kejari Bangkalan: Kisah Hendrik Sosok Tegas dan Ceria
Guru Tugas PP Najmul Ulum Al Mursyidiyah 01, Ustaz Tohari, menjelaskan wisuda dilakukan dengan metode munaqosah, yakni ujian publik untuk mengukur kemampuan santri secara nyata, bukan simbolik.
“Santri diuji langsung membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid, menggunakan alat peraga mushaf, dan menjawab pertanyaan secara terbuka,” ujar Ustaz Tohari.
Ujian tak berhenti pada kelancaran membaca. Santri tahfidz juga diuji hafalan Juz 30, mulai dari jumlah ayat, makna surah, hingga urutan surah sebelum dan sesudahnya.
“Teknik sambung ayat menjadi penutup, sebagai bukti kekuatan hafalan mereka di hadapan publik,” tambahnya.
Dalam pesannya, Ustaz Tohari menekankan pentingnya keteguhan iman dan mental sejak dini. Menurutnya, santri harus memiliki prinsip kuat di tengah tantangan global yang menggerus nilai kehidupan.
“Anak-anak harus tahu cara berpijak pada Al-Qur’an, sekaligus berpikir kritis agar tidak mudah goyah oleh zaman,” tegasnya.
Wisuda ke-17 ini diharapkan menjadi pijakan awal agar santri terus menjaga hafalan dan tumbuh sebagai cahaya moral bagi masyarakat Desa Mano’an dan sekitarnya.
BACA JUGA: Petugas UGD RSIA Puri Bunda Bersikap Arogan ke Bidan, Manajemen Tanggapi Santai
Apresiasi datang dari Ma’ruf, alumni LPI Miftahul Ulum. Ia menyebut konsistensi lembaga hingga usia 17 tahun sebagai bukti pengabdian nyata pendidikan agama di pelosok Bangkalan.
“Ini bukan soal angka, tapi keteguhan menjaga akhlak generasi desa,” ujarnya.
Ma’ruf juga mendorong integrasi pendidikan ke depan. Santri, menurutnya, perlu dibekali kemampuan menyaring informasi digital tanpa meninggalkan nilai Al-Qur’an.
“Santri harus diajak bertanya ‘mengapa’, agar punya prinsip kuat dan tidak hanyut oleh arus negatif zaman,” pungkasnya. (Red)

