BANGKALAN, TIMESindo.com – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menyambut kepulangan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Kemanusiaan dari Aceh Utara, Selasa 31 Maret 2026. Mereka menyelesaikan pengabdian di Desa Paya Rabo Lhok, Kecamatan Sawang, selama dua bulan.
Delapan mahasiswa menjalani pengabdian jauh dari keluarga, termasuk melewati bulan Ramadan di perantauan. Mereka hadir membantu masyarakat terdampak bencana sekaligus belajar memahami realitas sosial di lapangan.
BACA JUGA: Musrenbang 2027: Bangkalan Andalkan Inovasi di Tengah Keterbatasan
Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, menyampaikan program tersebut berjalan lancar dan memberi dampak luas. Ia menilai, kegiatan ini tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga membentuk kepekaan sosial mahasiswa.
Menurutnya, keterlibatan dalam aksi kemanusiaan mampu menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Pengalaman langsung di lapangan menjadi pembelajaran emosional yang tidak didapat di ruang kelas.
“Alhamdulillah, KKNT kemanusiaan berjalan lancar. Peserta juga bahagia karena bisa membantu masyarakat sesuai kemampuan,” ujarnya.
Pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi dengan Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Kerja sama tersebut dinilai kuat karena telah terjalin lama dan didukung kedekatan sosial budaya.
Ia menjelaskan, kesamaan karakter masyarakat Aceh Utara dan Madura yang sama-sama kental dengan nilai keislaman menjadi fondasi kolaborasi. Hal ini mempermudah proses adaptasi mahasiswa selama pengabdian.
“Secara kultur, Aceh Utara dan Madura sama-sama kuat dalam nilai keislaman, sehingga kami tertarik berkolaborasi,” katanya.
Program KKNT kemanusiaan ini merupakan yang pertama digelar UTM. Meski baru perdana, antusiasme mahasiswa cukup tinggi dan menunjukkan minat besar terhadap kegiatan sosial.
BACA JUGA: Panen Raya Melon UTM, Wujud Nyata Implementasi Kampus Berdampak
Lebih dari 64 mahasiswa mendaftar, namun hanya delapan orang yang diberangkatkan. Keterbatasan anggaran membuat peserta harus dibatasi dalam satu kelompok kecil.
“Ada lebih dari 64 yang mendaftar, tapi hanya delapan orang yang bisa diberangkatkan,” jelasnya.
Rektor juga mengapresiasi mahasiswa yang telah menuntaskan pengabdian selama dua bulan. Program ini setara 10 SKS dan berpeluang mendapat tambahan penilaian akademik.
Ia menilai, tantangan lokasi yang jauh serta kondisi lapangan yang tidak ringan menjadi alasan kuat penambahan SKS. Hal tersebut akan dibahas lebih lanjut di bidang akademik.
“Karena lokasi jauh dan tantangannya berat, jumlah SKS akan ditambah. Nanti akan ditindaklanjuti oleh bidang akademik,” tegasnya. ***

