BANGKALAN, TIMESindo.com – Ketidakpastian musim mulai terasa di Bangkalan. Saat kalender memasuki periode kemarau, hujan justru masih turun, memicu kekhawatiran akan dampak kemarau panjang yang diprediksi terjadi pada 2026.
Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan menilai kondisi ini sebagai bagian dari pola musiman yang terus berulang. Namun, anomali cuaca tahun ini dinilai perlu diantisipasi lebih serius oleh pemerintah kabupaten.
BACA JUGA: Hearing LKPJ 2025: DPRD Nilai Gagal Sentuh Akar Ekonomi Rakyat Bangkalan
Kepala Bidang Pertanian DP2KP Bangkalan, Abu Said, mengatakan pergeseran musim bukan hal baru dan sudah menjadi pola tahunan yang biasa ditangani.
“Setiap tahun memang ada siklusnya, jadi sudah biasa kami tangani,” ujarnya, Selasa 14 April 2026.
Ia juga menyebut bahwa secara perhitungan, bulan April seharusnya sudah memasuki musim kemarau.
“Harusnya bulan ini sudah kemarau, tapi sekarang masih hujan,” katanya.
BACA JUGA: UTM Gandeng Bawaslu, Perkuat Literasi Demokrasi Mahasiswa
Menghadapi potensi kemarau panjang, pemerintah kabupaten menyiapkan sejumlah langkah teknis untuk menjaga pasokan air bagi petani, terutama melalui penguatan infrastruktur irigasi.
“Total ada 180 titik pompa irigasi yang kami siapkan, serta 20 titik rehabilitasi jaringan irigasi tersier,” jelas Abu Said.
Selain itu, untuk wilayah yang tidak memiliki sumber air permukaan, pemerintah menyiapkan pengeboran air tanah yang difokuskan pada daerah rawan kekeringan.
“Tahun ini ada 9 titik JIAT yang kami siapkan, terutama di wilayah seperti Konang, Kokop, Geger, Arosbaya, dan Tanjungbumi,” pungkasnya. (Red)

