Oleh
Mohammad Faris
TIMESindo.com – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat bukan hanya berdampak pada sektor perdagangan dan industri. Dunia akademik pun kini ikut merasakan tekanan besar, terutama bagi dosen yang harus mengejar publikasi internasional demi tuntutan karier dan institusi.
Kenaikan dolar Amerika Serikat kembali menghadirkan keresahan di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan tinggi. Di tengah tuntutan publikasi internasional yang terus meningkat, dosen kini dihadapkan pada biaya publikasi jurnal Scopus yang semakin mahal.
BACA JUGA: Kartini Masa Kini: Antara Simbol Perayaan dan Realitas Ketidakadilan
Publikasi Scopus saat ini tidak lagi sekadar kebutuhan akademik biasa. Banyak perguruan tinggi menjadikannya syarat utama kenaikan jabatan fungsional, penilaian kinerja dosen, hingga penopang akreditasi kampus.
Masalah muncul ketika sebagian besar jurnal internasional bereputasi menggunakan dolar Amerika sebagai standar pembayaran publikasi. Ketika rupiah melemah, biaya yang harus ditanggung dosen ikut melonjak drastis.
Dengan kurs dolar yang menyentuh Rp17.698,60, biaya publikasi jurnal internasional kini terasa semakin berat. Kondisi itu membuat banyak akademisi harus berpikir ulang sebelum mengirimkan artikel ilmiah mereka.
Pada jurnal kategori Q1, biaya publikasi berkisar USD1.500 hingga USD5.000 atau sekitar Rp24 juta sampai Rp80 juta. Nominal tersebut jelas bukan angka kecil bagi sebagian besar dosen di Indonesia.
Sementara jurnal Q2 mematok biaya sekitar USD500 hingga USD2.000 atau setara Rp8 juta hingga Rp32 juta. Untuk kategori Q3, biaya publikasi berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp24 juta.
Bahkan jurnal Q4 yang dianggap paling rendah dalam tingkatan Scopus tetap membutuhkan biaya Rp2,5 juta hingga Rp13 juta. Angka itu menunjukkan bahwa publikasi ilmiah internasional semakin sulit dijangkau ketika nilai tukar rupiah melemah.
BACA JUGA: Hari Kesaktian Pancasila: Pilar Kebenaran dan Kebebasan Pers dalam Bingkai Ideologi
Situasi ini menempatkan dunia akademik dalam dilema besar. Di satu sisi, publikasi internasional penting untuk meningkatkan reputasi perguruan tinggi Indonesia. Namun di sisi lain, sistem publikasi global justru semakin membebani dosen secara finansial.
Pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tekanan terhadap dunia akademik tidak semakin berat. Sebab jika kondisi ini terus berlangsung, kualitas riset dan semangat publikasi dosen dikhawatirkan ikut terdampak.
Penulis: Mohammad Faris, sebagai Dosen Universitas Madura

