Kartini Masa Kini: Antara Simbol Perayaan dan Realitas Ketidakadilan

Publish :

Penulis:
Masnunah

TIMESindo.com Peringatan Hari Kartini setiap 21 April tak sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi atas perjuangan perempuan di tengah realitas sosial yang masih menyisakan ketimpangan. Di balik perayaan kebaya dan lomba-lomba, masih banyak perempuan yang bergulat dengan keterbatasan akses pendidikan, ekonomi, dan ruang pengambilan keputusan.

Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini tetap hidup, namun menghadapi tantangan baru yang lebih kompleks. Perempuan hari ini tidak hanya berjuang untuk pendidikan, tetapi juga menghadapi tekanan sosial, stereotip gender, hingga kekerasan berbasis gender di ruang domestik maupun publik.

Di berbagai daerah, perempuan masih berada pada posisi rentan, baik sebagai pekerja informal dengan upah rendah maupun sebagai korban ketidakadilan struktural. Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan Kartini belum sepenuhnya tuntas, melainkan terus berlanjut dalam bentuk yang berbeda.

Dalam konteks ini, kehadiran organisasi perempuan seperti Korps PMII Putri (KOPRI) menjadi penting sebagai ruang kolektif untuk memperkuat kesadaran dan keberdayaan perempuan. KOPRI tidak hanya menjadi wadah organisasi, tetapi juga ruang belajar dan perjuangan.

Sebagai badan otonom perempuan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), KOPRI memiliki peran strategis dalam membangun kapasitas kader perempuan. Melalui kaderisasi, diskusi, dan pelatihan, KOPRI mendorong perempuan untuk berani bersuara dan mengambil peran di ruang publik.

Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bagi kader KOPRI untuk tidak berhenti pada simbol, tetapi bergerak pada aksi nyata. Refleksi ini penting agar semangat perjuangan tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjelma menjadi gerakan sosial.

Di lapangan, KOPRI turut berkontribusi melalui kegiatan sosial dan edukasi yang menyasar masyarakat. Isu perempuan dan anak menjadi perhatian utama, terutama dalam hal perlindungan, pendidikan, dan peningkatan kesadaran gender.

Berbagai kegiatan seperti penyuluhan pendidikan perempuan, literasi, hingga advokasi kasus menjadi bentuk nyata keterlibatan KOPRI. Upaya ini menjadi langkah kecil namun penting dalam mendorong perubahan di tingkat akar rumput.

Meski demikian, tantangan di masyarakat tidak bisa dianggap ringan. Budaya patriarki yang masih kuat sering kali menjadi penghambat perempuan untuk berkembang. Tidak sedikit perempuan yang masih dibatasi ruang geraknya oleh norma sosial.

Selain itu, akses terhadap pendidikan dan ekonomi juga masih menjadi persoalan serius. Banyak perempuan yang harus putus sekolah atau bekerja di sektor informal tanpa perlindungan yang memadai, sehingga rentan terhadap eksploitasi.

Melalui peringatan Hari Kartini, penting untuk memperluas makna perjuangan perempuan ke ranah yang lebih konkret. Perempuan tidak hanya membutuhkan pengakuan simbolik, tetapi juga dukungan nyata dalam bentuk kebijakan dan ruang partisipasi.

Semangat Kartini harus terus dihidupkan melalui gerakan kolektif yang berkelanjutan. Kader KOPRI diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Dengan demikian, Hari Kartini tidak berhenti sebagai peringatan sejarah, tetapi menjadi titik tolak perjuangan baru. Perempuan Indonesia diharapkan semakin berdaya, berilmu, dan mampu berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil dan berkeadaban.

Penulis: Mahsunah, merupakan Ketua KOPRI PMII STKIP PGRI Bangkalan

Berita Terkait :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Postigan Populer