BANGKALAN, TIMESindo.com – Penolakan terhadap rencana iuran tahunan Federasi Akuatik Indonesia (FAI) meluas ke Madura. Iuran bagi atlet, pelatih, dan klub dinilai menambah beban pembinaan.
Pemilik Dhuro Akuatik Club (DAC) Bangkalan, Felayanti, menegaskan klub di Madura tidak sepakat dengan kebijakan tersebut. Sebab, biaya pembinaan selama ini sudah cukup besar.
BACA JUGA: DPD PAN Bangkalan Gelar Tasyakuran HUT ke-28 dan Santunan Anak Yatim
“Seharusnya pusat membantu daerah yang sudah membina atlet, bukan malah meminta iuran setiap tahun,” tegas Felayanti, Senin 24 Agustus 2026.
Menurutnya, pembinaan tidak hanya soal latihan. Klub juga menanggung biaya pelatih, perlengkapan, transportasi, kejuaraan hingga kebutuhan pendukung lainnya.
“Kalau klub terus dibebani, bagaimana pembinaan atlet di daerah bisa berkembang? Jangan sampai klub yang mencetak atlet justru semakin berat,” ujarnya.
Penolakan sebelumnya juga disuarakan puluhan klub akuatik di Jawa Timur. Mereka mempersoalkan iuran registrasi dan keanggotaan bagi atlet, pelatih, serta klub.
BACA JUGA: Ketua Kopri PMII UTM Desak Perlindungan Anak Diperkuat
Sedikitnya 55 klub atau perkumpulan akuatik di Jawa Timur menyatakan keberatan. Kini, Madura Raya turut menyoroti minimnya sosialisasi dan manfaat konkret dari iuran tersebut.
Felayanti menilai persoalan ini bukan sekadar nominal, melainkan soal keberpihakan terhadap pembinaan akar rumput. Ia meminta federasi lebih mengutamakan dukungan bagi klub daerah.
“Jangan hanya datang ketika atlet sudah berprestasi. Klub di daerah yang membina dari awal. Kalau ingin prestasi nasional kuat, fondasi daerah harus diperkuat, bukan dibebani,” pungkasnya.

