BANGKALAN, TIMESindo.com – Pengelola SPPG Gili Timur, H Subaidi, menegaskan operasional dapur Yayasan Laili Izzatul Faqoh berjalan sesuai ketentuan. Ia membantah tudingan adanya bau tak sedap yang disebut mengganggu warga sekitar.
Subaidi meminta setiap informasi terkait kondisi lingkungan SPPG disampaikan berdasarkan fakta. Ia mempersilakan pihak terkait datang langsung untuk melihat kondisi dapur dan fasilitas pengelolaan limbah.
BACA JUGA: HUT ke-81 RI, LIRA Pamekasan Tegaskan Pentingnya Kontrol Sosial
“Kalau memang ada bau, kami ingin tahu sumber dan lokasinya. Silakan datang dan cek langsung ke SPPG,” ujar Subaidi, Rabu 19 Agustus 2026.
Menurut Subaidi, pengelolaan dapur telah disiapkan dengan memperhatikan standar Badan Gizi Nasional (BGN). Ketentuan tersebut mencakup kebersihan, keamanan pangan, alur kerja hingga pengelolaan limbah.
SPPG Gili Timur juga memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilengkapi grease trap. Fasilitas itu berfungsi mengolah air buangan sekaligus menahan sisa minyak dari aktivitas dapur.
“Semua standar BGN sudah kami penuhi 100 persen, termasuk penggunaan bahan food grade dan sistem IPAL yang terintegrasi dengan grease trap,” jelasnya.
Ia menjelaskan, limbah cair tidak langsung dibuang, tetapi melewati tahapan pengolahan terlebih dahulu. Sistem tersebut menjadi bagian dari upaya pengelola menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan.
Kebersihan dapur juga dilakukan secara rutin sebagai bagian dari standar operasional. Pengelola memastikan area kerja dan lingkungan sekitar tetap terawat selama kegiatan pelayanan berlangsung.
Pernyataan pengelola tersebut diperkuat Alvin Kurniasih, warga yang tinggal di sekitar SPPG. Ia mengaku tidak merasakan adanya bau menyengat yang berasal dari aktivitas dapur.
“Sepengetahuan saya dan warga sekitar, tidak ada bau tak sedap dari dapur SPPG. Selama ini lingkungan tetap aman dan bersih,” kata Alvin.
Selain menjaga lingkungan, keberadaan SPPG Yayasan Laili Izzatul Faqoh dinilai memberikan dampak bagi warga sekitar. Sejumlah masyarakat setempat mendapat kesempatan bekerja dalam kegiatan operasional dapur.
“Warga sekitar justru terbantu dengan adanya dapur ini. Banyak tetangga dan warga lokal yang ikut bekerja,” tambah Alvin.
Subaidi menegaskan pengelola tidak menutup diri terhadap kritik maupun pemeriksaan. Menurutnya, pengecekan langsung akan lebih tepat untuk memastikan kondisi sebenarnya dibanding hanya mengandalkan informasi dari pemberitaan.
“Kami terbuka untuk pemeriksaan. Silakan warga maupun instansi terkait melihat langsung kondisi dapur dan fasilitasnya,” tegasnya.
BACA JUGA: Ketua DPRD Bangkalan Ajak Wujudkan Makna Proklamasi Lewat Pembangunan
Ia berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi kesimpulan sepihak yang merugikan pengelola maupun Yayasan Laili Izzatul Faqoh. Klarifikasi lapangan dinilai penting agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh.
Sebelumnya, muncul pemberitaan mengenai dugaan keluhan bau yang dikaitkan dengan SPPG Yayasan Laili Izzatul Faqoh. Pengelola menyatakan siap memberikan akses untuk memastikan langsung kondisi lingkungan dan sistem pengolahan limbah.
Dengan keterbukaan tersebut, Subaidi berharap operasional SPPG dapat dinilai secara objektif. Ia memastikan pelayanan pemenuhan gizi tetap dijalankan dengan memperhatikan kebersihan, keamanan pangan dan kondisi lingkungan sekitar.

