BANGKALAN, TIMESindo.com – APBD Bangkalan 2025 dinilai tak produktif karena tersedot belanja rutin, membuat arah pembangunan kabur. Dampaknya, hasil pembangunan minim dan kinerja Pemkab terkesan stagnan.
Kondisi tersebut memicu kritik dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indinesia (PMII) Bangkalan. Mereka menilai kebijakan fiskal Pemkab Bangkalan belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan masyarakat.
BACA JUGA: Setelah PAN dan Golkar, PKB–Gerindra Giliran “Hantam” LKPJ Bupati Bangkalan
Ketua PC PMII Bangkalan, Abdul Holik, menilai komposisi APBD menunjukkan lemahnya keberpihakan pada sektor produktif. Dominasi belanja operasional disebut masih terlalu besar.
“Belanja operasi mencapai Rp1,7 triliun atau 72 persen, naik dari 70 persen. Ini menunjukkan APBD kita masih boros,” tegas Holik, Sabtu 4 April 2026.
Ia merinci, belanja pegawai mencapai 43 persen dan belanja barang jasa 27 persen. Porsi tersebut dinilai mempersempit ruang fiskal untuk pembangunan.
“Kalau anggaran habis untuk rutinitas, lalu apa yang benar-benar dirasakan masyarakat? Ini yang membuat pembangunan stagnan,” lanjutnya.
Di sisi lain, capaian pertumbuhan ekonomi 4,53 persen juga dipertanyakan. Angka itu dinilai belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan kebijakan pemerintah.
“Pertumbuhan itu terdongkrak basis rendah tahun sebelumnya 1,94 persen. Jadi bukan sepenuhnya hasil kerja strategis,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan daerah lain di Madura, posisi Bangkalan masih tertinggal. Hal ini dinilai sebagai cerminan belum efektifnya pengelolaan anggaran.
“Faktanya kita masih di urutan ketiga. Ini bukti ada masalah serius dalam arah pembangunan,” katanya.
BACA JUGA: Fraksi Golkar Kritik LKPJ Bupati Bangkalan: Angka Naik, Dampak Nihil
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan fungsi pengawasan oleh DPRD Bangkalan. Peran legislatif dinilai krusial dalam memastikan anggaran tepat sasaran.
“Pengawasan DPRD harus diperkuat agar tidak ada pemborosan yang terus berulang,” ungkapnya.
Holik menegaskan perlunya perubahan prioritas anggaran ke depan. Belanja produktif harus lebih diutamakan dibanding rutinitas.
“Tanpa perubahan, Bangkalan akan terus jalan di tempat dan kehilangan momentum pembangunan,” pungkasnya. ***

