BANGKALAN, TIMESindo.com – Pekan Raya Bangkalan (PRB) 2026 resmi berakhir pada Minggu malam (8/11/2026). Selama 16 hari pelaksanaan, ajang tersebut mencatatkan perputaran uang hingga miliaran belasan rupiah.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bangkalan, H. Supai M. Noor, menyebut capaian tersebut menjadi bukti tingginya aktivitas ekonomi selama pameran berlangsung.
“Yang pasti perputaran uang sudah miliaran. Hitungannya bukan jutaan lagi, tetapi sudah miliaran. Salah satu stan seperti Griya Alam saja omzetnya mencapai Rp12 miliar selama dua pekan ini,” ungkapnya.
BACA JUGA: UTM Targetkan Trunojoyo Raih Gelar Pahlawan Nasional pada 2027
Dampak ekonomi juga dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga pedagang kecil. Bahkan, pelukis wajah yang membuka jasa di lokasi pameran mampu meraup ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap hari.
“Pelukis wajah tadi saat kami tanyakan bisa mendapatkan Rp1 juta per hari kalau malam Minggu atau malam Sabtu. Paling kecil saat hujan masih bisa mengantongi Rp250 ribu sampai Rp400 ribu,” tuturnya.
Tingginya antusiasme masyarakat yang mencapai sekitar 2.000 pengunjung per hari membuat Kadin mempertimbangkan penyelenggaraan kegiatan serupa secara berkala.
“Kami berencana menggelar ajang per kecamatan setiap tiga bulan sekali. Saat ini lokasi dan perizinannya sedang disurvei,” jelas Supai.
Meski mencatatkan capaian ekonomi positif, pelaksanaan PRB masih menyisakan sejumlah catatan, terutama persoalan teknis dan parkir. Dia menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama kegiatan berlangsung.
BACA JUGA: PSIA-PD FEB UTM Latih Mahasiswa Olah Data Panel dengan Stata
“Sebagai penanggung jawab, saya meminta maaf jika ada kekurangan teknis atau persoalan parkir. Ke depan kami akan terus bersinergi dengan pemerintah, kepolisian, dan Satpol PP untuk penertiban serta jaminan keamanan,” tegasnya.
Malam penutupan, ribuan warga kembali memadati lokasi PRB. Panitia menghadirkan penyanyi untuk menghibur pengunjung, para pemilik stan memanfaatkan malam terakhir menghabiskan stok dagangan mereka.

