Empat Guru Besar UTM Dikukuhkan, Sorot Solusi Nyata dari Hukum hingga Maritim

Publish :

BANGKALAN, TIMESindo.com Pengukuhan empat guru besar di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Rabu 22 April 2026, tidak sekadar seremoni akademik. Momentum ini justru menegaskan arah baru riset kampus yang semakin dekat dengan persoalan riil masyarakat.

Keempat profesor yang dikukuhkan datang dari disiplin berbeda, namun memiliki benang merah: menawarkan solusi konkret bagi tantangan nasional. Mulai dari tata kelola hukum, ketahanan pangan, ekologi laut, hingga industri maritim.

BACA JUGA: Buntut Sekda Tidur di Forum Resmi, LIRA Bangkalan Bakal Demo Pemkab

Dari bidang hukum, Prof. Dr. Eny Suastuti menyoroti korupsi perizinan tambang sebagai masalah serius yang bersifat sistemik. Ia melihat tumpang tindih aturan dan lemahnya pengawasan menjadi akar persoalan yang belum terselesaikan.

“Tindak pidana korupsi di sektor perizinan pertambangan sudah bersifat kompleks dan sistemik. Perlu pembaruan regulasi yang tegas agar tidak terjadi multi tafsir,” tegasnya.

Ia menjelaskan, reformulasi hukum diperlukan untuk memperjelas batas antara pelanggaran administrasi dan pidana. Tanpa itu, penegakan hukum akan terus menghadapi inkonsistensi.

“Tanpa pengawasan yang kuat, izin pertambangan rawan disalahgunakan. Negara harus hadir memastikan keadilan dan kepastian hukum,” tandasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Elys Fauziyah menawarkan perspektif berbeda melalui optimalisasi lahan kering. Ia menilai lahan marginal justru menyimpan peluang besar jika dikelola dengan pendekatan inovatif.

“Lahan kering bukan hambatan, tetapi peluang untuk inovasi pertanian. Kita harus mengubah paradigma dari keterbatasan menjadi potensi,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya sistem produksi yang efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan. Menurutnya, petani harus menjadi aktor utama dalam transformasi tersebut.

“Transformasi pertanian harus menyentuh efisiensi dan keberlanjutan. Petani harus menjadi pusat perubahan,” tegasnya.

BACA JUGA: Kartini Masa Kini: Antara Simbol Perayaan dan Realitas Ketidakadilan

Di sektor kelautan, Prof. Insafitri memperkenalkan konsep “Samudra Harmoni” sebagai pendekatan baru pengelolaan laut. Ia menilai keseimbangan antara eksploitasi dan konservasi menjadi kunci utama.

“Laut bukan hanya sumber daya, tetapi sistem kehidupan yang harus dijaga. Keseimbangan ekosistem menjadi kunci keberlanjutan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebijakan berbasis ilmu dan kesadaran kolektif harus berjalan beriringan. Menurutnya, manusia perlu membangun relasi yang selaras dengan alam.

“Pengelolaan laut harus berbasis ilmu dan kesadaran bersama. Kita harus hidup selaras dengan alam,” tegasnya.

Di bidang rekayasa manufaktur, Prof. Mohamad Imron Mustajib menyoroti pentingnya transformasi teknologi dalam industri perkapalan. Ia menilai digitalisasi menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan daya saing.

“Teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing industri perkapalan. Kita harus beralih ke sistem manufaktur yang lebih adaptif,” katanya.

Ia menjelaskan, integrasi otomasi dan sistem modern akan mendorong efisiensi produksi. Inovasi berbasis riset dinilai menjadi fondasi kemandirian industri nasional.

“Industri perkapalan harus berbasis inovasi dan teknologi. Kemandirian hanya bisa dicapai melalui riset dan pengembangan,” tandasnya.

BACA JUGA: Doorprize hingga Asrama Gratis, UTM Buat Peserta UTBK Lebih Nyaman

Rektor UTM, Prof Safi’, menyampaikan bahwa penambahan empat profesor ini menjadi capaian penting bagi kampus. Ia menyebut jumlah guru besar kini mencapai 35 orang.

Capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan indikator berkembangnya tradisi akademik di UTM. Menurutnya, para guru besar memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menghasilkan karya ilmiah berdampak.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kami dengan bertambahnya empat guru besar. Total guru besar UTM saat ini sebanyak 35,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa gelar profesor bukan titik akhir perjalanan akademik. Justru, menurutnya, status tersebut harus menjadi awal kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Kami berharap gelar ini bukan akhir dari proses belajar, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” tegasnya. ***

Berita Terkait :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Postigan Populer