Oleh: Denok Dwi Anggraini
OPINI – Ketika seorang anak datang ke Raudhatul Athfal (RA) setiap pagi, apakah ia hanya datang untuk belajar, atau juga datang untuk merasa aman, diterima, dihargai, dan dicintai?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mulai menjadi bagian dari arah baru pendidikan madrasah. Di Pamekasan, gagasan tersebut bukan lagi sesuatu yang asing. Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan telah melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis implementasi Kurikulum Cinta pada bulan Juli 2025, di Palengaan yang diikuti 60 peserta, termasuk guru dan pengurus dari 13 KKG RA. Kegiatan tersebut secara eksplisit diarahkan untuk memperkuat pemahaman guru mengenai Kurikulum Cinta. Artinya, Kurikulum Berbasis Cinta sudah mulai diperkenalkan dan digerakkan di Pamekasan.
Dari Sosialisasi Menuju Praktik
Kurikulum Berbasis Cinta secara resmi semakin kuat setelah terbit KMA Nomor 1503 Tahun 2025, yang menjadi pedoman implementasi kurikulum pada RA dan jenjang madrasah lainnya. Namun, kurikulum tidak akan bermakna hanya karena sudah masuk dalam dokumen.
Dr. H. Lamijan Hadi Susarno, M.Pd. pernah mengatakan bahwa kurikulum harus diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang nyata, bukan berhenti sebagai dokumen administratif. Maka, pertanyaan untuk RA di Pamekasan bukan hanya tentang “Apakah KBC sudah masuk dalam dokumen kurikulum?” tetapi “Apakah anak benar-benar mengalami nilai cinta dalam kegiatan pembelajaran di RA?”
Dalam hal ini guru RA Membutuhkan model yang lebih operasional. Guru RA tentu sudah memiliki praktik pendidikan yang penuh kasih jauh sebelum istilah Kurikulum Berbasis Cinta diperkenalkan. Guru menyapa anak, mendampingi ketika menangis, mengajarkan berbagi, membiasakan berdoa, dan menanamkan akhlak. Persoalannya adalah bagaimana berbagai praktik baik tersebut diintegrasikan secara sadar dan sistematis sebagai bagian dari implementasi KBC. Karena itu, RA di Pamekasan membutuhkan sebuah model yang sederhana dan mudah diterapkan.
Salah satunya adalah Model CINTA:
C: Caring, peduli terhadap kebutuhan dan perasaan anak.
I: Interaction, membangun interaksi positif antara guru, anak, dan orang tua.
N: Nurturing, mendampingi tumbuh kembang anak secara utuh.
T: Trust, menciptakan rasa aman dan kepercayaan.
A: Appreciation, menghargai keunikan, usaha, dan perkembangan anak.
Model ini bukan kurikulum baru. Model CINTA merupakan kerangka operasional untuk membantu guru menerjemahkan Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam praktik sehari-hari.
Cinta Harus Terlihat di dalam Kelas
Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari misalnya, ketika anak menumpahkan air, guru tidak langsung memarahi, tetapi mengajak anak membersihkannya. Ketika anak belum mampu menyelesaikan kegiatan, guru tidak membandingkannya dengan teman, tetapi memberikan kesempatan untuk mencoba. Ketika anak menangis, guru tidak buru-buru mengatakan “jangan menangis”, tetapi membantu anak mengenali dan mengelola emosinya. Hal-hal sederhana tersebut sebenarnya merupakan praktik Caring, Nurturing, dan Trust.
Begitu pula ketika anak belajar tentang lingkungan, cinta tidak cukup dijelaskan melalui cerita. Anak dapat diajak merawat tanaman, menjaga kebersihan kelas, berbagi dengan teman, atau mengenal lingkungan sekitar. Dengan demikian, cinta bukan tema tambahan dalam pembelajaran. Cinta menjadi cara guru mendidik.
Pamekasan Bisa Menjadi Laboratorium RA Berbasis Cinta. Dengan jumlah RA yang tersebar luas di berbagai kecamatan, Pamekasan memiliki peluang untuk mengembangkan laboratorium pendidikan berbasis cinta yang kontekstual dengan karakter masyarakat Madura. Kearifan lokal seperti gotong royong, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama, serta nilai religius masyarakat dapat menjadi sumber belajar yang kuat. Model CINTA kemudian dapat menjadi jembatan antara kebijakan nasional, kebutuhan guru, karakter lokal Pamekasan, dan pengalaman nyata anak.
Pada akhirnya, Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar menambahkan kata “cinta” ke dalam dokumen kurikulum. Kurikulum Berbasis Cinta merupakan perubahan cara memandang anak. Anak bukan objek yang harus dibentuk sesuai keinginan orang dewasa. Anak adalah manusia yang sedang tumbuh dan membutuhkan ruang yang aman untuk berkembang.
Karena itu, pertanyaan terpenting bagi RA bukan hanya:
“Apa yang sudah diajarkan kepada anak?” Tetapi “Apa yang dirasakan anak selama bermain dan belajar di sekolah?”
Jika anak merasa aman, dihargai, didengarkan, dan dicintai, maka Kurikulum Berbasis Cinta mulai menemukan maknanya. Saatnya Pamekasan bergerak dari Kurikulum Berbasis Cinta di atas kertas menuju budaya CINTA di ruang kelas.
** Denok Dwi Anggraini merupakan mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA

